Selasa, 13 September 2011 08:32 WIB | 58 Views
Kemarau panjang melanda hampir seluruh penjuru tanah air sehingga diantaranya menyebabkan sawah-sawah kesulitan mendapat air. (ANTARA/Noveradika)
Berita Terkait
- Kekeringan di Lebak tak berdampak rawan pangan
- Bulog tetap impor beras bila panen mundur
- Oktober, awal musim hujan
- Ratusan hektare sawah di Trengggalek mengering
- Rawan pangan mengancam ribuan warga NTT
Video
- Sosialisasi Program Penanggulangan Bencana
- Pusat Penanggulangan Bencana Akan Dibangun
- Kerjasama pangan Dan Penangan Bencana
Gorontalo (ANTARA News) - Sejumlah petani di Kecamatan Paguyaman dan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo, beralih profesi menjadi buruh bangunan karena sawah mereka tidak bisa digarap akibat kemarau sejak dua bulan terakhir.
Sebagian dari mereka ada yang beralih menjadi pengemudi becak motor (bentor), moda transportasi utama di daerah itu.
Yatno, petani di Desa Sidumulyo Kecamatan Tolanguhula, mengaku kesulitan mengembangkan sawahnya lagi karena musim panas yang berkepanjangan.
"Kami terpaksa menjadi buruh bangunan, demi menghidupi kebutuhan keluarga " kata Yatno.
Dengan upah Rp60 ribu hingga Rp75 ribu per hari, Yatno dan rekan-rekannya sesama petani bisa menghidupi ekonomi keluarga.
Sementara para petani lain seperti Mujirin beralih menjadi pengemudi bentor. "Areal sawah di wilayah ini banyak yang sudah kering, sehingga menunggu musim hujan untuk menggarapnya," katanya.
Dia mengatakan memang pemerintah daerah sudah membangun irigasi di daerah itu, namun karena kemarau panjang sejak beberapa bulan terakhir, irigasi itu tidak bisa mengairi ratusan hektar areal sawah.(*)
M031/H013
Sebagian dari mereka ada yang beralih menjadi pengemudi becak motor (bentor), moda transportasi utama di daerah itu.
Yatno, petani di Desa Sidumulyo Kecamatan Tolanguhula, mengaku kesulitan mengembangkan sawahnya lagi karena musim panas yang berkepanjangan.
"Kami terpaksa menjadi buruh bangunan, demi menghidupi kebutuhan keluarga " kata Yatno.
Dengan upah Rp60 ribu hingga Rp75 ribu per hari, Yatno dan rekan-rekannya sesama petani bisa menghidupi ekonomi keluarga.
Sementara para petani lain seperti Mujirin beralih menjadi pengemudi bentor. "Areal sawah di wilayah ini banyak yang sudah kering, sehingga menunggu musim hujan untuk menggarapnya," katanya.
Dia mengatakan memang pemerintah daerah sudah membangun irigasi di daerah itu, namun karena kemarau panjang sejak beberapa bulan terakhir, irigasi itu tidak bisa mengairi ratusan hektar areal sawah.(*)
M031/H013
Editor: Jafar M Sidik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar